Penyakit-penyakit organisasi

PDF
Organisasi merupakan sekumpulan orang yang memiliki tujuan bersama. Untuk mengatur pencapaian tujuan maka perlu diatur mekanisme pembagian tugas, pembagian wewenang, dan siapa yang bertanggung jawab, agar setiap organ/alat di dalam organisasi itu bertindak dan berperilaku yang sejalan dengan misi, maksud, dan tujuan organisasi.

Menjalankan roda organisasi tentunya akan menemui halangan dan rintangan. Sebuah organisasi yang matang dan berpengalaman, membekali para kadernya dengan cara-cara menghindari, menghadapi, dan menyelesaikan permasalahan yang ditemui. Untuk itulah, organisasi yang sehat tentunya memiliki sistem (aturan main) yang berguna sebagai pedoman ketika menjalankan program dan kegiatan, dan ketika menyelesaikan konflik. Sehingga, sistem atau peraturan itu dibuat tidak saja sekedar untuk mengikat para anggota untuk patuh, namun juga menawarkan solusi (penyelesaian) apabila terjadi konflik.

Ada beberapa penyakit dalam organisasi yang apabila penyakit ini berkembang dan meluas akan menjadi penghambat organisasi. Mulanya penyakit-penyakit ini ditunjukkan lewat gejala-gejala yang bisa langsung terdeteksi maupun tidak. Namun apabila penyakit ini sudah mengidap di tubuh organisasi maka akan mengakibatkan kelumpuhan pada organisasi, bahkan kematian. Penyakit-penyakit ini harus dihindarkan sehingga bisa meminimalisir biaya dan kerugian yang mesti ditanggung apabila penyakit-penyakit ini sudah menular.

Beberapa penyakit di dalam organisasi, yaitu:

1.  Tujuan telah ditetapkan, namun tidak dirumuskan secara jelas dan rinci.
2.  Aturan dan tujuan telah ditetapkan, namun individu masa bodoh/tidak patuh pada aturan.
3.  Pembagian tugas dan wewenang yang tidak tuntas, atau tidak jelas.
4.  Para pengambil keputusan yang tidak memahami aturan dan tujuan organisasi.
5.  Mekanisme pengambilan keputusan yang tidak matang, masih bersifat subyektif.
6.  Perasaan bahwa bidang/divisinya yang paling penting.
7.  Tidak seimbangnya tanggung jawab dg wewenangnya.
8.  Semata-mata bekerja sesuai dengan tugasnya saja tanpa kerjasama antar divisi/bidang.
9.  Merasa pintar alias sok tahu, hanya menjadi penonton
10. Bukannya ikut berpartisipasi dan memberi contoh yang lebih baik, tetapi malah menjadi penonton dan komentator.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s